Hukum Gadai menurut islam

Hukum Gadai menurut islam

I. Definisi

Rohn / Gadaimenurut bahasa ialah tetap/kekal. Sedangkan  menurut istilah syara' menjadikan suatu benda sebagai jaminan atas suatu hutang yang mana barang akan dijual untuk membayar hutang pihak yang berhutang ketika pihak yang berhutang tidak bisa membayar hutang tersebut

II. Rujukan Dalil

Dalil yang mendasari adanya akad rohn ini sebagaimana yang telah termaktub dalam Al Qur'an dan Al Hadits di bawah ini


وإن كنتم على سفر ولم تجدوا كاتبا فرهان مقبوض (البقره: ۲۸۳)

الله صلى الله عليه وسلم رهن درعه عند يهودي يقال له أبوالشحم على ثلاثين صااین شعير لأهله

III. Rukun Rohn

Secara umum rukun akad rohn ada empat : aqid (rohin dan murtahin), shighot (ijab dan qobul), marhun, marhun bih.

Aqid

Pelaku di dalam akad rohn yang terdiri dari rohin dan murtahin.
  • Rohin orang yang memiliki hutang serta pihak yang menyerahkan barang jaminan kepada murtahin.
  • Murtahin: orang yang menghutangi dan pihak yang menerima barang jaminan dari rohin.
Adapun kriteria dari rohin dan murtahin harus memenuhi syarat- syarat berikut:
  • Ahli tasaruf : orang yang diperbolehkan membelanjakan hartanya.
  • Tidak adanya paksaan pada saat melakukan transaksi.

Shighot

Bahasa interaksi yang berupa ijab dan qobul yang mana sebagai wujud serah terima barang dan wujud kerelaan dari kedua belah pihak. Adapun syarat shighot sama dengan keterangan di dalam bab bai'.

Marhun

Barang yang dijadikan sebagai jaminan (wasiqoh) atas hutang, nilai nominal marhun tidak harus setara dengan hutangnya, boleh lebih sedikit atau lebih banyak. Secara umum semua barang yang dapat diperjualbelikan (mabi') maka boleh dijadikan marhun. Kecuali kemanfaatan barang karena kemanfaatan sifatnya tidak tetap, yang akan hilang dengan berjalannya waktu, maka tidak boleh menggadaikan manfaat.

Marhun bih

Wujudnya hutang yang menjadi tanggungan rohin atau murtahin.
Syarat-syarat marhun bih ialah:
  1. Berupa tanggungan yang sudah wujud.
  2. Hutangnya tetap menjadi tanggungan.
  3. Dapat diketahui oleh kedua belah pihak (rohin dan murtahin).
  4. Tidak memungkinkan untuk gugur, kedua belah pihak tidak berhak memutuskan kesepakatan secara sepihak.

IV. Macam-macam Akad Rohn

Di dalam literatur fiqih akad rohn ada dua macam yakni : rohnjali dan rohn syar'i.
  • Rohn ja'li: akad gadai yang membutuhan adanya sighot, dalam arti rohin dan murtahin masih hidup.
  • Rohn syar'i : akad gadai yang tidak membutuhkan adanya sighot yang mana hutang tersebut berhubungan dengan harta peninggalan mayit (tirkah). Seperti orang mati yang meninggalkan hutang dan belum sempat membayarnya maka harta warisan mayit dijadikan jaminan (marhun) untuk melunasi hutang-hutangnya. Sehingga ahli waris tidak diperbolehkan mentasarufkan hartanya sebelum hutang tersebut lunas.

Konsekuensi Hukum Akad Rohn

Setelah akad rohn terpenuhi rukun dan syarat-syarat di atas, selanjutnya ada beberapa penetapan dan konsekuensi sebagaimana di bawah ini :

Status akad

Sebelum terwujudnya serah terima marhun, rohin tidak berhak membatalkan akad atas barang yang digadaikan. Sebab status akad di dalam rohn akan menjadi tetap setelah pihak murtahin menerima barang jaminan dari rohin, disertai tidak adanya pembatalan akad yang dilakukan oleh rohin.

Status marhun

  • Barang yang digadaikan berfungsi sebagai jaminan atas tanggungan rohin sampai adanya waktu yang telah disepakati.
  • Barang yang digadaikan bukan dari hasil barang pinjaman/ghosoban
  • Barang yang digadaikan tidak harus setara nominalnya.
  • Barang yang sudah digadaikan tidak boleh digunakan oleh murtahin tanpa adanya izin dari rohin.
  • Rohin tidak boleh menarik kembali barang jaminannya sebelum hutang telah dilunasi.

Penjagaan dan perawatan marhun

  • Penjagaan dari kerusakan marhun dibebankan kepada murtahin. Jika kerusakan tersebut tidak disengaja oleh sebab itu biaya keamanan perawatan marhun dibebankan kepadamurtahin.
  • Jika marhun berupa hewan ataupun tanaman, maka biaya perawatan hidup dibebankan pada rohin.


0 Response to "Hukum Gadai menurut islam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel