Jual Beli Menurut Pandangan Islam Secara.....

 Jual Beli Menurut Pandangan Islam


Pengertian  Bai' ( Jual Beli )

Bai' menurut bahasa yaitu tukar menukar sesuatu. Sedangkan menurut hukum syara' yaitu transaksi tukar menukar materi (benda ) yang memberikan konsekuensi kepemilikan barang ('ain) atau manfaat (jasa) secara permanen (muabbad).

Rujukan Hukum bai' ( Jual Beli )

Dalil yang menerangkan tentang bai' sudah diterangkan di dalam Al Qur'an dan Hadits, yaitu sebagai berikut:

• Al Qur'an

وأحل الله البيع وحرم الربا (البقرة : ۲۷۰)

Yang pada intinya dari ayat diatas menjelaskan tentang Allah Swt memperbolehkan kita untuk  mencari nafkah dengan sistem aqad jual beli sedangkan kita dilarang untuk menjalankan yang namanya riba.

• Al Hadits
تیل البي : أي الكسب طيب قال : عمل الرجل بيده وكل بيع مبرور أي لأغش فيه ولا خيانة . رواه الحاكم

Nabi SAW ditanya: pekerjaan apa yang terbaik? Beliau menjawab: pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli baik. Artinya tidak terdapat unsur manipulasi dan khianat (HR. AI Khakim)

Rukun Bai' (  Jual Beli )

Rukun bai' secara umum (ijmal) ada 3 dan jika diperinci (tafsil) ada 6
yaitu:

1. Aqidain

adalah pelaku transaksi yang meliputi penjual (bai') dan pembeli (mustari). Dalam akad bai' aqidain disyaratkan harus ahli at-tasharruf dan mukhtar.

a. Ahli At-Tasharruf
Orang tidak yang dicegah atau mentasharrufkan membelanjakan hartanya. Orang-orang yang tidak termasuk dalam poin ini antara lain:
  • Anak kecil, yaitu anak yang belum menginjak usia baligh
  • Orang gila
  • Orang yang dipaksa
  • Mahjur alaih sebab safih

b. Mukhtar
Tidak adanya paksaan untuk menjual hartanya tanpahak/hukum syara' yang memperbolehkan memaksa, akan tetapi jika ada hak memaksa maka tetap diperbolehkan. Seperti seorang hakim yang memaksa seseorang untuk menjual mobilnya karena adanya hutang yang tidak mau membayarnya.

Catatan : seorang pembeli harus beragama Islam apabila barang yang dibelinya berupa Al Qur'an, Al Hadits, kitab-kitab Islam, dll. Faktor ini didasari firman Allah SWT di dalam Al Qur'an:

أن يحعل الله الكافرين على المؤمنين سبيلا

2. Ma'qud Alaih

Suatu barang yang dijadikan transaksi dalam akad jual beli.
Ma'qud alaih mencakup adanya tsaman (harga/alat pembayaran) dan mutsamman (barang dagangan) atau biasa disebut dengan mabi' (barang yang dijual).

Syarat-syarat ma'qud alaih ada 5 macam:

  1. Mutaqowwim/mutamawwal: barangnya mempunyai nilai ekonomis dan juga suci
  2. Muntafaun bihi: barang yang dijual mempunyai nilai kemanfaatan
  3. Maqdur ala at taslim: barang yang dijual mampu diserah terimakan
  4. dLi al aqid wilayah: pelaku transaksi memiliki kewenangan atas ma'qud alaih (tsamman/mutsamman)
  5. Ma'lum : keberadaan ma'qud alaih diketahui baik dengan cara melihat secara langsung atau disifati

3.Shighot


Sebuah komunikasi berupa ucapan atau isyarah yang menunjukkan serah terima dalam transaksi. Shighot mencakup adanya ijab dan qobul.

Syarat Shighot ada 4 Macam.

  1. Muttashil
  2. Ijab dan qobul harus berkesinambungan artinya tidak ada jeda waktu yang lama yang mencerminkan qobul bukan lagi sebagai respon dari ijab dan tidak disela-selai kalimat lain.
  3. Muafaqoh filma'na
  4. Kesesuaian maksud walaupun beda lafadh.
  5. Adamu ta'liq
  6. Tidak ada penangguhan pada syarat tertentu pada saat akad.
  7. Adamu ta'qit
  8. Tidak adanya pembatasan waktu atas kepemilikan suatu barang.

Pembagian Bai' ( Jual Beli )

Jual Beli menurut hukum syara' dibagi menjadi 3 bagian:
1. Bai' 'ain musyahadah
Akad jual beli barang yang disaksikan. Maksudnya penjual dan pembeli dapat menyaksikan kehadiran barang dagangan secara keseluruhan atau melihat sebagian barang yang dapat menunjukkan secara keseluruhan.

Syarat-syarat jual beli pada jenis ini ada 5 macam :
  1. Suci barangnya dan bernilai ekonomis
  2. Dapat diambil kemanfaatannya
  3. Dapat dimiliki secara keseluruhan
  4. Dapat diserah terimakan
  5. Adanya ijab dan qobul
2. Bai' 'ain mausuf fi dzimmah
Jual beli barang dengan cara tanggungan (dzimmah). Jual beli ini juga bisa dikatakan pesanan (salam). Yang dimaksud dzimmah adalah suatu barang yang dapat dijanjikan untuk diserah terimakan. Dalam akad ini, barang yang disyaratkan dapat disifati seperti halnya di dalam akad salam.

3. Bai' 'ain ghoibah
Jual beli barang yang tidak diketahui atau tidak disaksikan oleh kedua belah pihak, meskipun sebenarnya barang tersebut ada dalam majlis akad. Akad jual beli pada bagian ketiga hukumnya tidak boleh. Akan tetapi ada sebagian ulama yang memperbolehkan jika barang tersebut ada sebelum akad dan selanjutnya menghilang. Dengan catatan barang tersebut tidak berubah pada saat akad sampai di tangan pembeli.

V. Hukum-hukum dalam Bai'

Pada dasarnya hukum jual beli adalah mubah, namun karena ada beberapa faktor, hukum ini berubah sebagaimana keterangan di bawah ini :
  • Wajib : seperti menjual makanan kepada seseorang yang dalam keadaan darurat.
  • Sunah :seperti menjual barang yang memberikan kemanfaatan pada umumnya.
  • Makruh : seperti menjual kain kafan orang yang meninggal dunia.
  • Harom seperti melakukan jual beli setelah adzan kedua sholat Jum'at dikumandangkan
  • Mubah seperti jual beli hand phone, motor, dll.

Istilah-istilah Fiqih dalam Bai' ( Jual Beli )

Tsamman
Harga barang yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak. Jika tsamman berupa alat pembayaran (uang) maka tsamman adalah uangnya.

Mutsamman
Harga barang belum disepakati dari kedua belah pihak atau harga bandrol di majlis akad. Mutsamman juga biasa disebut qimmah.

Akad Jaiz
Akad yang apabila telah final boleh dibatalkan secara sepihak

mutamawwal
Suatu yang mempunyai nilai harga meskipun sedikit dan bermanfaat

Mi'yar Syar'i
Suatu takaran yang sudah ditetapkan oleh syara' menurut jenisnya. Jika berat dengan kilogram, cair dengan liter, panjang dengan meter dan banyak dengan hitungan jumlah.

Naqlul yad :
Pemindahan hak kepemilikan suatu barang yang tidak dapat dimiliki lewat jalur jual beli, seperti barang najis

ba'i muathah :
Sebuah transaksi jual beli tanpa adanya sighot atau jual beli yang akad dan sighot tidak memenuhi syarat-syarat bai'

Baca Juga : Hukum Gadai menurut Pandangan Islam

Hukum jual beli pada versi ini ada 3 macam :


a. Versi Qoul Masyhur
Transaksi dihukumi fasad / rusak secara mutlaq

b. Versi Ibnu Suraij dan Ar Royyani
Transaksi tetap sah hanya pada jenis barang yang dianggap remeh (haqir)

C. Versi Imam Malik, An Nawawi, dll
Transaksi tetap sah dalam praktek yang telah berlaku pada umumnya. Karena memang tidak adanya dalil nash yang mewajibkan ijab dan qobul Tafriq Assufqoh Pemilah hukum di dalam sebuah akad yang memuat dua hal berbeda secara hukum. Pemilihan hukum ini meliputi sah dan tidak sah dan barang boleh dikembalikan atau tidaknya


Sumber : www.santridalail.my.id

0 Response to "Jual Beli Menurut Pandangan Islam Secara....."

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel